Monday, April 20, 2020



Program Prakerja dan Saran Perbaikan

Program Prakerja yang baru diluncurkan April ini tepat di masa Pandemik Covid-19 mendapatkan banyak sekali feedback dan kritik.

Program Prakerja ini sudah sering dipublikasikan di akhir 2019 yang lalu jadi bukan program baru dan program yang awalnya didesain untuk menghadapi masa susah Pandemik Covid-19.

Dari judul Prakerja ini sendiri menyiratkan ditujukan bagi orang yang belum mendapatkan pekerjaan (pra = belum). Nah di era Covid-19 ini masalah bertambah banyak dengan adanya PHK masal di berbagai industri sehingga prakerja ini menjadi terdiri atas 2 kelompok yaitu :

1)Prakerja lama : yang memang belum pernah bekerja di 2019 yang lalu (masih menganggur atau baru lulus sekolah atau kuliah)
Sempat diperkirakan mencapai 5,700,000 orang.

2)Prakerja baru : yang tidak bekerja sejak Maret 2020 karena PHK di era Covid-19
Belum sempat didata tapi bisa diperkirakan akan mencapai jutaan orang juga misal dari industri garmen,industri retail,industri perhotelan dan sebagainya.

Banyak sekali kritikan yang muncul dalam sepekan terakhir soal Program ini baik yang disuarakan oleh Ombudsman,Media Massa dan Media Sosial. Kritikan ada yang tertuju pada programnya tapi tidak sedikit pula yang ditujukan pada mitra yang dipilih karena adanya potensi conflict of interest.

Ulasan saya sendiri lebih terfokus pada Program ini dan bagaimana memperbaiki dan memodifikasinya supaya lebih cocok di Era Covid-19 dan Post-Covid 19 yang seperti diumumkan oleh Presiden Jokowi akan berlangsung sampai akhir tahun 2020.

Program peningkatan skill/kemampuan tenaga kerja bukan barang baru di Indonesia. Dari dulu ada Balai Latihan Kerja milik Kementerian Tenaga Kerja dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia (setidaknya setiap Provinsi ada 1 BLK). Pertemuan tatap muka ala BLK di masa Pandemik menjadi tidak mungkin karena pembatasan sosial dan juga PSBB. Ada juga kritikan bahwa training BLK kurang updated. Di luar negeri ada Program Skills Future dan Skill Upgrading oleh Kementerian Tenaga Kerja Singapura/Work Force Development Agency. Program di Singapura ini sudah berjalan lama dan cukup berhasil. Nah sepertinya salah satu referensi yang dipakai adalah Program Singapura ini dan mungkin beberapa negara lain.

Namun kalau kita lihat list program online yang ditawarkan di web prakerja masih sangat sederhana seperti “Cara dapat uang dari Youtube”, “Sukses interview,cepat dapat kerja” atau semacam “Berjualan dengan Whatsapp Business”,”Barista atau peracik kopi” dan “Membuat Makaroni Schotel”.

Nah saya bayangkan/berandai-andai beberapa kelanjutan sesudah online training ini sebagai berikut :

1) Cara dapat uang dari Youtube
Isunya content seperti ini ada banyak di Internet dan Youtube sendiri dan apakah akan ada ratusan ribu orang yang dapat sukses mendapatkan uang dari Youtube sebagai entertainer/influencer sukses semacam Atta Halilintar,Dedi Corbuzier,Cameo Project dan sebagainya.
Saya gak yakin ada cukup pasar dan cukup bakat untuk ratusan ribu orang ini menggapainya. Takutnya banyak yang akan tetap jadi pengangguran.

2) Sukses interview,cepat dapat kerja
Kemampuan interview penting tapi di masa ini lapangan kerja susah didapatkan jadi sepertinya di lapangan akan susah cepat dapat kerja nih.

3) Berjualan dengan Whatsapp Business
Berjualan dengan Whatsapp Business banyak diajarkan juga di online dan Youtube sendiri. Ada jutaan orang sudah berjualan di Whatsapp Business juga dan mereka sudah membuktikan skill mereka di keseharian. Ada karyawan kantoran,ada pengusaha UKM,ada Ibu Rumah Tangga dan sebagainya. Di masa Pandemi ini ada banyak sekali orang dadakan menjual masker,hand sanitizer,Vitamin C dan sebagainya melalui Whatsapp. Lihat saja di Whatsapp Group yang hampir setiap hari ada yang berjualan.
Apakah pelajaran berjualan ini akan benar-benar dan perlu dilakukan selama 4 bulan mengingat praktiknya lebih penting dan bisa cepat dilakukan ?

4) Barista atau peracik kopi
Ada banyak sekali anak muda yang belajar menjadi barista dalam beberapa tahun terakhir dan ini merupakan kemampuan yang harus diuji di praktik lapangan. Apakah belajar online tanpa praktik bisa memberikan efficacy yang sama ? Apakah sertifikatnya bisa dipakai untuk melamar di Starbuck atau Coffee Bean atau Excelso atau Kopi Kenangan atau Janji Jiwa ? Sori,bukan promosi merek Kopi ya tapi bermaksud memberikan contoh sejelas-jelasnya saja.

Dari sinilah kita kemudian kembali ke hulu bahwa sebenarnya sebelum training dilakukan/dibuat maka seharusnya ada mapping dilakukan :
1) Mapping keinginan karir prakerja lama dan prakerja baru
2) Mapping rencana nasional (industri dan jasa yang hendak dikembangkan) dan kebutuhan perusahaan-perusahaan

Tanpa ada mapping dari supply dan demand seperti ini maka yang terjadi adalah oversupply tenaga kerja atau usahawan tanpa ada demand yang cukup dan akhirnya bermuara pada kegagalan. Kita tentunya tidak mau program dengan dana besar ini menjadi gagal.

Spesifik di era Covid-19 sendiri,kebutuhan prakerja baru dan lama justru bertumpu pada perut sekaligus memastikan ada sandang dan papan juga (berarti dana untuk sewa rumah/kos/kontrakan).
Pangan,sandang dan papan menjadi ultimate dibandingkan kebutuhan training/skill upgrading di masa krisis dan ini berlaku di negara manapun. Alangkah baiknya porsi dana online training ini dikurangi atau dialokasikan lebih banyak kepada pemenuhan pangan,sandang dan papan prakerja lama dan baru ini. Apabila ada beberapa trilyun dana dapat dialokasikan tambahan ke 3 aspek ini maka kita akan punya tenaga kerja yang sehat dan tetap positif. Tentu saja selalu ada peluang kebocoran dana di 3 aspek ini tapi mekanisme penyaluran sepertinya sudah ditetapkan melalui payment partner sehingga sudah lebih aman dan termonitor dengan baik.

Cara penyaluran lain dapat dilakukan melalui mekanisme OJT (On The Job Training). Dalam OJT ini Pemerintah mensubsidi sebagian gaji karyawan baru/magang prakerja selama beberapa bulan. Dengan demikian terdapat 2 nilai positif yaitu :

a) Bagi karyawan baru/magang prakerja : mendapatkan pengalaman nyata,pelatihan lapangan dan honor. Perusahaan memberikan sertifikat rekomendasi yang sepertinya akan lebih dapat dipakai untuk melamar pekerjaan di masa depan ke perusahaan lain.
b) Bagi perusahaan baik UKM maupun besar : mendapatkan tenaga kerja tambahan yang dapat membantu produktivitas di masa sulit ini dengan biaya misalnya separuh saja karena separuhnya dari Program Prakerja Pemerintah.

Ketika tiba saatnya ekonomi membaik di 2021 dan program online juga sudah dapat dibuat berkualitas (ada waktu setahun memperbaiki dan menambah mitra juga) maka Program Prakerja setara atau lebih baik dari Skills Upgrading Singapore dapat diluncurkan kembali dengan better acceptance dan outcome.


Herman Huang
Penulis adalah pengusaha startup,konsultan dan edukator juga.

No comments: